Citanduy Dalam Belaian

           Dari balik semak-semak ilalang
           Tertegun sepasang mata dalam lamunan
           Si kecil nan mungil itu berbeda
           Berlari-lari membelah ilalang dan rerumputan
           Matanya yang sayup-sayup dalam langkah
           Layang-layang! Layang-layang!
           Ditariknya layang-layang terbang tinggi
 

Pesona Bantaran


Hijau lembutmu membelai mata
            Kesejukan mengalir menyentuh qalbu
            Nafas-nafas terhempas landung
            Dan kerinduan bersama terus mekar
            Saat jiwa-jiwa ini menyisir lembut
            Dan larut dalam keindahan mempesona
            Kala senja menyelimuti dirimu
 

Waktu



Waktu…..
Selembut sutera dalam sentuhan
Bahkan lebih lembut

Waktu……
Sehalus kain sutera dalam rabaan
Bahkan lebih halus
 

Rintikan Sejuk Rahmat-Mu

Sejuk-sejuk rahmat-Mu merintik
Dalam butiran-butiran bening suci
Kala manusia baru terbangun dari mimpinya
Sementara dingin semakin menusuk rusuk
Menambah hening rumput dan dedaunan
Yang tertegun dalam tasbih dan tahmidnya
 

Secangkir Madu Racun


Pandangan mata
Terumbar penuh nafsu
Melesat berlumuran racun
Menusuk kesucian jiwa
Merobek ketenangan rasa
Yang tiada ragu bagi mereka
 

Ibu……



Ibu…..
Pengorbanan, kesabaran dan ketabahan
Menghiasi setiap ranah kehidupanmu
Semua itu
Adalah mutiara, yakut, permata dan marjan
 

Negeriku Dalam Duka


Indonesia, negeriku tercinta, tanah airku yang subur dan makmur yang melimpah dengan kekayaan alamnya, yang membentang dari sabang sampai merauke, baik yang di darat maupun yang di laut. Ia adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Negara kepulauan yang memiliki letak geografis yang sangat strategis. Tapi, kini ia sedang berduka, ia dalam lemah dan lemas, karena akhir-akhir ini negeriku terus ditimpa berbagai macam musibah dan bencana alam yang terus silih berganti.
 

Akhir Para Pembawa Cahaya


Kematian, akhir setipa alur cerita kehidupan, datang tanpa kenal lelah dan pilah. Besar atau kecil, tua atau muda, pria atau wanita, orang mulia atau hina, raja atau budak, semua pasti akan ditembus oleh kematian, ia hanya tinggal menunggu perintah dan catatan yang ada dalam suratan takdir.

Golongan orang-orang yang mulia, mulai dari para Rasul ulul ‘azmi yang lima hingga para nabi yang lainnya, mereka semua tunduk dan berakhir pada kematian. Tak seorang pun dari mereka yang mampu meminta penangguhan maut walau sedetik saja, apalagi menolak dan berlari dari kedatangannya. Sungguh, ini adalah kebenaran dan fakta yang semua orang pasti bungkam dan tak berani untuk menentangnya, membantah dan mendebat realita yang telah tertulis dalam sejarah kehidupan manusia.
 

Akhir Yang Terlupakan


Kematian, ya saya katakan bahwa ia adalah akhir yang terlupakan, sebuah peristiwa yang sangat dahsyat yang sudah banyak ditinggalkan dan dilupakan dari ingatan kita, sudah jarang menjadi bahan pembicaraan, dan kalaupun ada ia hanya diingat dan dibicarakan dengan hati yang kosong dan hampa, sehingga hal itu tidak berpengaruh sedikit pun bagi hati dan amalannya.

Padahal kematian adalah sebuah kepastian, detik detik sakaratul maut adalah sebuah kebenaran, ini adalah moment yang paling ditakuti oleh orang-orang kafir, dan saat-saat yang paling didambakan oleh orang-orang yang beriman dengan keimanan yang sejati, karena ia sudah tidak sabar dan sangat rindu untuk bertemu dengan Alloh dan melihat-Nya.
 

Nama-Nama Surat Al-Fatihah

 

Ibnul Qayyim al-Jauziyah

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Saed As-Saedy - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger