Bersama Bahagia Dalam Naungan Islam

  • RAHASIA DI AKHIR TASYAHUD

    Sukses, ternyata tidak lepas dari kecerdikan dalam memilah dan memanfaatkan kesempatan, apapun bentuk kesuksesan itu. Sehingga memerankan strategi yang baik sangatlah penting dalam kehidupan seorang muslim.

  • SAATNYA AKU TIADA LAGI BERMIMPI

    Hunian super mewah di dunia belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hunian yang Allah sediakan di surga. Untuk memilikinya pun bukanlah mimpi, bahkan seorang mukmin yang paling miskin pun bisa meraihnya, dan hal itu bukanlah perkara yang mustahil.

  • HAK-HAK ANAK TERHADAP ORANG TUA

    Hak-hak anak bagi orang tua ibarat biji-bijian yang hendak ditanamnya. Apabila biji-bijian ini ketika sebelum maupun setelah ditanamnya diperhatikan dan dirawat dengan baik, niscaya ia akan menjadi tanaman yang subur dan menghasilkan buah yang baik lagi banyak.

  • DOSA-DOSA PACARAN

    Cukuplah bagi kita, khususnya orang tua atau mereka yang di bawah tangannya tergenggam amanah akan pendidikan maupun perkembangan anak-anaknya, bahwa fakta maupun realita yang kerap terdengar dan menjadi santapan sehari-hari kita menunjukkan akan buruknya akibat dari sebuah pacaran.

Sepucuk Surat “Kepadamu Wahai Putraku Tercinta“

Wahai puteraku tercinta, kutuliskan pula untaian-untaian nasihat yang mungil untukmu, semua itu tidak lain adalah sebuah bentuk kasih sayangku terhadapmu. Hendaklah engkau merasa takut kepada Allah terhadap dirimu sendiri, yaitu dengan tetap menjaga kesucian, kemuliaan, mengenakan pakaian yang disyariatkan, membekali diri dengan ilmu dien, menjaga rasa malu, menjaga diri dari pergaulan dengan perempuan yang bukan mahramnya, menjauhi ikhtilat, khulwah, serta tidak mengikuti dan terbawa oleh ajakan maupun propaganda para penebar fitnah dari kaum liberalis dan orientalis serta orang-orang kafir.

Wahai puteraku tercinta, kau bagiku bagai sebuah pedang samurai, kau adalah sumber manfaat yang besar sekaligus sebuah kebanggaan untukku, namun di sisi lain kau pun bisa berubah menjadi sebuah bumerang yang mampu untuk melukai dan membinasakan diriku. Ketahuilah bahwa keberadaanmu di sisiku tidaklah aman selamanya, karena kau tidaklah hidup bersamaku seutuhnya dan tidak selalu berada dalam pengawasanku selamanya. Televisi, koran, majalah, komik, novel, handphone, internet, lingkungan sekolah, pergaulan teman-teman, dan lingkungan lainnya adalah hal-hal yang akan terus menemani dirimu. Terlebih di zaman sekarang ini yang hampir semua ranah kehidupan tidak bisa lepas dari yang namanya handphone dan internet.

Semua itu, baik media cetak dan elektronik yang semakin canggih dan smart akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter, perilaku, kepribadian, dan pola pikir dalam dirimu. Jikalau dirimu tidak memiliki pertahanan yang kokoh, niscaya kau akan terbawa arus buruk yang akan menghinakan dirimu sendiri secara pelan tapi pasti.

Memang kemudahan itu adalah sebuah anugerah dari Allah atas hamba-hamba-Nya yang layak kita syukuri. Akan tetapi orang-orang kafir, orang munafik dan musuh-musuh Allah yang lainnya, mereka lebih menguasai media itu semua dan sangat gencar untuk merusak aqidah, pola pikir maupun akhlak generasi-generasi muda islam.

Oleh karena itu, wahai puteraku tercinta, bekalilah dirimu sebanyak-banyaknya dengan pengetahuan agama yang benar dan berhati-hatilah dirimu dari pemahaman dan pemikiran yang menyimpang. Carilah sumber-sumber ilmu syariat yang murni yang jauh dari penyimpangan. Karena ketika tiba saatnya kau untuk terjun ke dunia luar, kau akan mendapatkan betapa dahsyatnya pengaruh-pengaruh buruk lingkungan yang akan merayu dan mengodamu dalam setiap waktunya. Di saat itulah, jika kau tak memiliki pertahanan aqidah maupun pemahaman agama yang benar dan kuat, dipastikan kau akan tergiur dan terbawa oleh arus buruk yang akan terus mengintaimu.

Wahai puteraku tercinta, kelak kau akan menjadi sosok seorang bapak bagi anak-anakmu yang akan merasakan seperti apa yang ku rasakan saat ini. Jika kau mengharapkan kebaikan bersinar dari anak-anakmu kelak, maka kau harus membangunnya dari sekarang juga yaitu dengan merajut kebaikan-kebaikan itu terlebih dahulu dalam dirimu sendiri. Karena sesungguhnya rumah tangga yang kelak kau bangun bersama pasanganmu adalah madrasah pertama yang akan membentuk karakter dan pola pikir terhadap anak-anakmu. Di sinilah urgensi bekal beragama yang benar dan kuat kedua orang tua bagi pendidikan anak-anaknya yang akan menghiasi kehidupan berumahtangganya kelak.

Wahai puteraku tercinta, kami sebagai orang tuamu tidaklah menghalangimu untuk bercita-cita menjadi apa saja selama itu baik, bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat. Kami sangatlah mendukung asamu menurut kemampuan yang bisa kami kerahkan selama raga ini masih bisa dimanfaatkan. Akan tetapi, janganlah kau lupakan untuk terus belajar ilmu agama, karena pemahaman yang benar dan kuat dalam beragama adalah pondasi utama yang akan menjadi filter diri agar tidak mudah tergiur dan terjerumus oleh godaan dan pengaruh buruk lingkungan sekitar, baik lingkungan kerja ataupun lingkungan bermasyarakat.

Wahai puteraku tercinta, kau adalah generasi penerus yang akan memangku masa depan umat dan negeri ini. Sungguh, kebaikan umat dan negeri tercinta ini sangatlah bergantung pada kebaikan dalam dirimu. Pula kemunduran dan kehancuran umat maupun negeri ini tidak lepas dari keburukan akhlak, pola pikir, landasan beragama yang lemah dalam dirimu.

Kami sebagai orang tuamu tidaklah mengharap banyak darimu melainkan agar kau menjadi generasi yang shalih dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang akan menjadi kebanggaanku tersendiri yang luar biasa yang tidak bisa tergantikan oleh harta maupun tahta. Sama sekali bukanlah kebanggaan bagiku di saat melihat dirimu jauh dari akhlak, pola pikir, dan kebiasaan yang mencerminkan nilai-nilai islam yang mulia.

Wahai puteraku tercinta, jadikanlah Rasulullah dan para sahabatnya sebagai suri tauladan dalam hidupmu. Karena mereka merupakan sebaik-baik generasi umat manusia yang telah mengerti dan merasakan makna kehidupan yang sejatinya. Janganlah para artis, bintang olahraga, atau bintang-bintang lainnya yang malah kau jadikan sebagai teladan hidupmu. Karena mereka hanyalah mencari popularitas dan kehidupan dunia semata, sementara hakikat hidup yang sejatinya belumlah pernah mereka rasakan.

Wahai puteraku tercinta, Kehidupan tidaklah sebatas di dunia saja, karena di sana masih ada kehidupan akhirat yang menantinya dan akan kekal selama-lamanya. Adapun keberadaan kehidupan dunia hanyalah sebatas jembatan yang akan mengantarkan kita kepada kehidupan yang sejatinya, yaitu akhirat. Jika kita baik dalam menyikapi kehidupan dunia, maka baik pula yang akan kita dapatkan kelak di akhirat. Dan sebaliknya, jika kita salah dalam menyikapi kehidupan dunia, maka keburukan pula yang akan didapatkan kelak di akhirat. Sementara tolak ukur dalam menyikapi baik buruknya kehidupan dunia hanyalah terdapat pada syariat yang telah Allah turunkan kepada Rasulullah. Inilah sejatinya neraca yang harus dijadikan pegangan umat manusia dalam menempuh kehidupan dunia yang fana ini.

Wahai puteraku tercinta, sejatinya kau juga adalah aset termahal yang pernah ku miliki yang sangat aku harapkan manfaatnya di saat diriku telah tutup usia yang tiada amal kebajikan satupun yang bisa aku lakukan setelah itu. Dan hal itu hanya bisa aku dapatkan di saat kau benar-benar menjadi seorang muslim yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ini pula sepucuk surat kecilku yang ku tuliskan untukmu wahai puteraku tercinta. Dengarkanlah suara hatiku ini yang ku lukiskan dalam untaian-untaian kata nasihat untukmu. Inilah yang akan menjadi kebanggaanku di saat kau benar-benar mendengarkan nasihat yang ku tuliskan untukmu. Karena tiadalah kemuliaan dalam dirimu melainkan dengan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah.

Diakhir surat ini, tak lupa ku iringi do’a semoga Allah senantiasa menjaga kebaikan dan keistiqamahan dalam hatimu, menjadikanmu seorang muslim yang shalih dan taat, serta melahirkan darimu generasi-generasi islam yang tangguh, cerdas, berakhlak mulia, berdedikasi tinggi, serta penuh dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Amiin
Share:

Sepucuk Surat “Kepadamu Wahai Puteriku Tercinta“

Wahai puteriku tercinta, hendaklah engkau merasa takut kepada Allah terhadap dirimu sendiri, yaitu dengan tetap menjaga kesucian, kemuliaan, mengenakan pakaian yang disyariatkan, membekali diri dengan ilmu dien, menjaga rasa malu, menjaga diri dari pergaulan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, menjauhi ikhtilat, khulwah, tabaruj, serta tidak mengikuti dan terbawa ajakan maupun propaganda para penebar fitnah dari kaum liberalis dan orientalis serta orang-orang kafir.

Jadilah engkau seorang muslimah yang baik, seorang pendidik dan teladan bagi anak-anakmu kelak, sosok yang pandai menjaga kesucian diri dan keluarga yang hendak kau bangun, manusia yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, seorang yang qana’ah dan tidak rakus terhadap harta dan dunia, taat terhadap suami yang akan menjadi pendamping hidupmu, menunaikan kewajiban-kewajibanmu terhadapnya tanpa kurang, tidak meminta hak-hakmu darinya tanpa lebih, dan kerahkanlah seluruh tenaga maupun pikiranmu untuk mendidik dan mecetak anak-anakmu menjadi generasi yang shalih dan shalihah, pandai, cerdas, berdedikasi, berakhlak mulia, memiliki aqidah yang lurus, taat dalam beribadah, lembut dalam bermuamalah, tegas dan kokoh serta berprinsip agama yang kuat.

Wahai puteriku tercinta, engkau harus tahu bahwa saat engkau keluar rumah, berbaur dengan para lelaki, sibuk dengan karir dan pamor, menanggalkan jilbab dan hijab, melumuri diri dengan wewangian, bersolek untuk menarik orang lain, serta berkeliaran di tempat-tempat umum. Saat itu engkau telah menjadi sumber malapetaka dan bencana, akar kehancuran dan kerusuhan, pangkal kekacauan dan kemunduran. Ingatlah saat Rasulullah bersabda :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً هِىَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki melainkan fitnah wanita.” [1]

Wahai puteriku tercinta, kelak di saat kau menjadi seorang ibu bagi anak-anakmu, manakah yang lebih kau banggakan? Puteri-puterimu yang pandai, berprestasi di sekolah atau kampus, memiliki pekerjaan yang mapan, akan tetapi mereka melepaskan hijabnya, berpakaian tapi telanjang layaknya kebanyakan para wanita saat ini, tidak menjaga shalatnya dengan baik, menghabiskan waktu luangnya hanya dengan musik, nyanyian, atau nonton film maupun sinetron, pula dengan bebasnya mereka bergaul atau berkomunikasi dengan para laki-laki. Apakah semua itu sudah sangat cukup membanggakan hatimu dan keluargamu?

Atau kau lebih berbangga dengan keberadaan puteri-puterimu yang smart, terpancar dari wajah dan tubuhnya keshalihan akhlak maupun hati, rajin dalam ibadah wajib maupun sunnah, pandai membaca al-Qur’an, bahkan hafal sebagian atau seluruhnya, menghijab tubuhnya dengan gaun yang telah Rasulullah ajarkan, menghiasi rumahnya dengan lantunan merdu akan ayat-ayat suci al-Qur’an, mengisi waktu laungnya dengan bacaan-bacaan buku islami, motivasi maupun inspirasi, serta rajin bermunajat kepada Rabb-nya untuk kebaikan diri dan kedua orang tuanya!

Pula, apakah kau lebih berbangga disaat melihat putra-putramu memiliki segudang prestasi dalam dunia olahraga, science, atau dalam bidang-bidang lainnya, akan tetapi mereka hanya shalat di saat ingat dan luang saja atau bahkan tidak shalat sama sekali, jarang membaca al-Qur’an, enggan untuk mengaji, lebih senang menghiasi rumahnya dengan nyanyian atau musik-musik semata, dan dengan bebasnya bergaul atau menjalin komunikasi dengan para wanita yang bukan mahramnya, atau yang semisalnya. Apakah semua itu begitu membanggakan diri dan hatimu sebagai seorang ibu bagi mereka?

Atau kau lebih senang dan bangga ketika melihat putra-putramu rajin shalat berjamaah di Masjid, menghiasi rumahnya dengan lantuan ayat-ayat suci al-Qur’an, menjadikan rumahnnya penuh dengan buku-buku islam, inspirasi maupun motivasi, mengisi waktu luangnya dengan bacaan buku-buku perpustakaan di rumahnya, membatasi pergaulannya dengan para wanita yang bukan mahramnya, dan ditambah dengan prestasi yang baik di sekolah maupun kampusnya!

Manakah yang lebih membanggakan hati dan keluarga yang hendak kau bangun bersama pendamping hidupmu kelak jika anak-anakmu telah menghiasi kehidupan rumah tanggamu? Semua orang pasti mengharapkan kebaikan bagi anak-anaknya, akan tetapi kebaikan itu tidaklah terlahir begitu saja tanpa adanya usaha dan teladan dari diri orang tuanya. Oleh karena itu, wahai puteriku tercinta, jika kau mengharapkan kebaikan bersinar dari anak-anakmu kelak, maka mulailah dari sekarang untuk memperbaiki dirimu sendiri sebelum kehadiran mereka di sisimu. Karena keburukan akhlak, kebiasaan maupun ibadahmu akan menjadi pendidik praktis yang akan diserap langsung oleh anak-anakmu kelak.

Wahai puteriku tercinta, jangan kau kira bahwa keelokan paras wajah dan tubuhmu yang kau jajakan begitu bebasnya tidak berdampak buruk sama sekali bagi masyarakat di sekelilingmu. Relakah anugerah agung yang telah Allah berikan kepadamu dieksploitasi hanya untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Bisa ditonton dan dinikmati secara gratis oleh setiap mata lelaki yang kotor hatinya. Serta menjadi penyulut api fitnah, kerusakan dan keburukan bagi manusia lainnya.

Sungguh, kami sebagai orang tuamu tidaklah rela kau menjadi sampah dan bahan obralan yang begitu murahnya terjual dan disantap oleh siapa saja. Kau adalah mahkota dan kemuliaan bagiku di dunia ini dan di akhirat kelak, jika kau menjadi seorang muslimah yang taat dan istiqamah di atas petunjuk Rasulullah.

Jika kau bangga dan lebih memilih dengan perbuatan burukmu untuk mengikuti budaya-budaya barat yang hina itu, hanya demi untuk mendapatkan kenikmatan dunia dan keindahan semu semata, maka kami sebagai orang tuamu tidaklah berbangga sama sekali dengan semua itu. Kami justru sangat bersedih dan teriris hatinya dengan kerasnya hatimu untuk mendengar nasihatku.

Jika itu adalah pilihanmu, maka kami berlepas diri darimu dan dari perbuatanmu. Nasihat telah kami sampaikan, jalan yang benar telah kami tunjukkan, segenap kekuatan dan usaha telah dikerahkan agar kau kembali ke jalan yang benar. Semoga Allah menerima hujjahku di saat hari pertanggunngjawaban menantiku, dan Dia tidak menghukumku akibat pembangkangan yang kau tunjukkan kepadaku.

Wahai puteriku tercinta, jadikanlah Rasulullah dan para shohabiyah sebagai suri tauladan dalam hidupmu. Karena mereka merupakan sebaik-baik generasi umat manusia yang telah mengerti dan merasakan makna kehidupan yang sejatinya. Janganlah para artis, bintang olahraga, atau bintang-bintang lainnya yang malah kau jadikan sebagai teladan hidupmu. Karena mereka hanyalah mencari popularitas dan kehidupan dunia semata, sementara hakikat hidup yang sejatinya belumlah pernah mereka rasakan.

Wahai puteriku yang tercinta, sejatinya kau adalah aset termahal yang sangat aku harapkan manfaatnya di saat diriku telah tutup usia yang tiada amal kebajikan satupun yang bisa aku lakukan setelah itu. Dan hal itu hanya bisa aku dapatkan di saat kau benar-benar menjadi seorang wanita shalihah yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Inilah sepucuk surat kecilku untukmu wahai puteriku yang tercinta. Dengarkanlah suara hatiku ini yang ku tuliskan dalam untaian-untaian kata nasihat untukmu. Inilah yang akan menjadi kebanggaanku di saat kau benar-benar mendengarkan nasihat yang ku tuliskan untukmu. Karena tiadalah kemuliaan dalam dirimu melainkan kau balut dan pelihara mahkotamu dengan nilai-nilai sunnah Rasulullah.

Diakhir surat ini, tak lupa ku iringi do’a semoga Allah senantiasa menjaga kebaikan dan keistiqamahan dalam hatimu, menjadikanmu seorang muslimah yang shalihah dan taat, serta melahirkan darimu generasi-generasi islam yang tangguh, cerdas, berakhlak mulia, berdedikasi tinggi, serta penuh dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Amiin



-----------------------
 [1] HR. Bukhari (5096), Muslim (7121), At-Tirmidzi (2780), Ibnu Majah (3998) dan Ahmad (21794)
Share:

Manfaat Berjilbab

Balutan jilbab dalam tubuh seorang muslimah adalah sebuah keanggunan yang dipenuhi dengan kemuliaan. Disamping ia sebagai icon kemuliaan seorang wanita muslimah, jilbab juga memiliki banyak sekali manfaat lain yang sejatinya manfaat itu kembali untuk diri seorang muslimah itu sendiri. Berikut ini adalah beberapa manfaat jilbab :[1]

1. Selamat dari azab Allah

Seandainya taka ada manfaat lain dalam jilbab selain ini, cukuplah ia menjadi renungan kita. Bagaimana tidak, sedangkan semua jerih payah kita selama ini pada hakikatnya ialah demi mencari keselamatan dan kebahagiaan akhirat.

Seorang muslimah yang menanggalkan jilbabnya, otomatis tergolong orang yang bermaksiat. Tak hanya satu maksiat yang ia lakukan, namun sederet kemaksiatan sekaligus telah ia kerjakan. Mulai dari meninggalkan kewajiban, mengundang fitnah kaum lelaki, memberikan contoh yang tidak baik, sampai menjadi penyulut terjadinya pelecehan seksual, perzinaan, perampokan dan lain-lain. Karenanya, jadikanlah manfaat ini sebagai alasan utama untuk berjilbab. Ingatlah bahwa siksa Allah amatlah pedih. Jangan sampai kita mengira bahwa tubuh kita akan kuat menahan siksa-Nya.

2. Ibadah yang mudah, tanpa lelah dan lebih dicintai Allah

Ketahuilah bahwa mengenakan jilbab merupakan ibadah, bukan sekedar tradisi. Ia merupakan ibadah agung yang mengandung banyak kebaikan. Bahkan ia lebih dicintai oleh Allah dari sekian banyak ibadah sunnah. Mengapa demikian? Perhatikanlah firman Allah dalam hadits qudsi berikut :

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Hamba-Ku tidaklah bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatupun yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.” [2]

Sebagaimana yang telah anda ketahui, mengenakan jilbab merupakan salah satu kewajiban bagi seorang muslimah. Karenanya ia lebih dicintai oleh Allah dari pada shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, atau amalan-amalan sunnah lainnya.

Lebih lagi anda tak capek-capek untuk meraih pahala besar, cukup menutup diri dengan berjilbab atau tinggal dalam rumah. Dengan amalan yang ringan seperti ini, anda mampu mengalahkan banyak orang yang giat beramal sunnah, namun tidak berjilbab atau sering keluyuran.

3. Tanda wanita terhormat

Salah satu disyariatkannya jilbab ialah untuk membedakan antara wanita yang terhormat dengan wanita-wanita lainnya.

Allah telah berfirman :

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59)

Ketika seseorang melihat wanita yang berjilbab secara sempurna, pertama kali yang terlintas di benaknya ialah bahwa wanita itu adalah seorang yang baik lagi menjaga kehormatannya. Namun jika yang dilihat penampilannya mirip wanita tuna susila, maka jelas orang yang melihatnya itu akan mempunyai penilaian yang jelek terhadapnya.

4. Terhindar dari pelecehan

Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita adalah akibat dari tingkah laku mereka itu sendiri, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ayat di atas. Bagaimana tidak, sedangkan Allah telah menanamkan kecenderungan kepada wanita di hati setiap laki-laki.

Allah berfirman :

“Dijadikan indah dalam [pandangan] manusia kecintaan terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang banyak…” (QS. Ali Imran : 14)

Wanita juga merupakan fitnah terbesar bagi kaum laki-laki sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. Jikalau wanita 14 abad yang lalu merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki, maka bagaimana kiranya ketika mereka keluar dengan mengumbar aurat yang membangkitkan nafsu syahwat di zaman sekarang ini? Jelas mereka akan menjadi target pelecehan seksual yang paling empuk bagi kaum laki-laki yang jahat.

5. Menjauhkan diri dari perbuatan nista

Dengan mengenakan jilbab, anda akan terdorong untuk menjauhi tempat-tempat maksiat. Anda pasti malu saat terlihat di tempat-tempat yang tidak baik. Jauh berbeda dengan mereka yang bertabarruj, yang dapat dijumpai di mana pun kecuali di tempat-tempat yang mulia. Karena itu jilbab merupakan simbol kemuliaan seorang wanita yang akan menjauhkan dirinya dari perbuatan nista.

Kalaulah ada di antara mereka yang berjilbab sampai terjerumus dalam perbuatan nista, maka bukan jilbabnya yang kita salahkan, akan tetapi orangnya. Sebagaimana kalau kita mendapati ada orang islam yang mencuri, berzina, dan yang lainnya, kita tidak boleh menyalahkan agamanya, karena islam justru melarang dari itu semua, akan tetapi orang itu sendiri yang tidak mau taat pada agamanya.

Juga sebaliknya, jika kita mendapati wanita yang tidak berjilbab, namun ia sangat baik akhlak dan hatinya, maka bukan karena tidak berjilbab dia jadi baik, tapi karena memang dia orang yang berkarakter baik. Kalau wanita ini sudah baik sebelum berjilbabnya, maka bagaimana kalau ia berjilbab, maka ia pasti akan lebih baik lagi.

6. Mengundang jodoh yang shalih

Ketahuilah bahwa laki-laki shalih adalah dambaan setiap wanita yang mulia, begitu pula wanita shalihah adalah dambaan laki-laki yang mulia. Dengan mengenakan jilbab, anda akan dinilai sebagai seorang wanita yang shalihah, sehingga secara otomatis jodoh yang shalih pun akan segera menghampirinya.

7. Menunjukkan harga diri pemakainya

Apabila seseorang memiliki sesuatu yang berharga, apa yang harus ia lakukan? Ia pamerkan untuk semua orang secara gratis, ataukah disimpan di tempat yang aman, yang hanya orang-orang tertentu yang boleh melihatnya? Demikian pula wanita yang memandang dirinya amat berharga, ia takkan membiarkan semua orang bebas melihatnya, apalagi menjamahnya. Hanya suamilah yang bebas melihatnya, itupun setelah sang suami memberikan sejumlah harta sebagai maharnya. Bandingkan dengan orang yang bertabarruj, semua orang boleh dan bebas melihat dan menikmatinya secara gratis!!

8. Memberi teladan yang baik kepada sesama

Memberi teladan yang baik terhadap sesama amatlah besar pahalanya. Dengan mengenakan jilbab, berarti anda mengajarkan kepada sesama muslimah bagaimana cara berbusana yang baik dan benar. Bila ada wanita lain yang tertarik dengan jilbab yang anda kenakan, kemudian ia mengikutinyaa, maka anda akan mendapatkan pahala selama ia mengenakan jilbabnya. Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya." [3]

9. Melatih diri untuk sabar dalam ketaatan

Sabar dalam mentaati perintah Allah memang berat, karenanya ia perlu latihan. Dengan berjilbab, anda melatih diri untuk dicibir orang, sabar agak kepanasan dan sabar menghadapi tantangan lainnya. Namun ingatlah bahwa itu semua pasti berakhir, dan anda-lah yang akan beruntung.

10. Jilbab membuat awet muda

Ini bukanlah omong kosong, akan tetapi secara ilmiah dapat dibuktikan. Gejala penuaan rata-rata terlihat pada kulit yang mulai berkeriput dan kendor, demikian pula rambut yang mulai beruban. Hal itu disebabkan oleh dampak negatif dari pancaran sinar matahari.

Maka intensitas terkenanya pancaran sinar matahari bagi wanita yang tidak berjilbab lebih banyak karena tidak ada pelindung bagi tubuhnya. Sehingga kulitnya akan lebih cepat keriput akibat pengaruh sinar matahari.

Sedangkan mereka yang berjilbab, insyaAllah akan aman dari dampak negatif sinar matahari, sehingga mereka tidak cepat kelihatan tua alias awet muda.

11. Menghemat pengeluaran

Bagi anda yang berpenghasilan pas-pasan, mengenakan jilbab merupakan solusi ekonomis yang sangat tepat. Karena anda tidak perlu lagi mengeluarkan banyak uang untuk perawatan kulit, kosmetik, dan lain sebagainya. Kosmetik yang anda pakai pun cukup yang sederhana tanpa harus memakainya berlebih. Sebab anda hanya berdandan dan tampil cantik di depan suami.

Bandingkan dengan mereka yang bertabarruj, yang setiap harus dandan, atau ke salon, dan lain-lain. Berapa besar uang yang harus dikeluarkan untuk itu semua dalam setiap bulannya? Jelas ini termasuk tindakan mubadzir yang diharamkan.

Sebaliknya dengan berjilbab anda ikut meringankan suami yang kerja keras demi mencukupi keluarga. Anda juga bisa sedekah dengan uang yang semula untuk tabarruj tersebut. Sehingga anda akan mendapatkan dua pahala sekaligus, pahala meringankan suami dan pahala sedekah.

12. Menghemat waktu

Pernakah anda berfikir berapa jam yang anda habiskan untuk berdandan tiap harinya? Atau ketika memilih gaun mana yang cocok dipakai untuk hari ini, esok,lusa, untuk rapat, untuk pernikahan, dan seterusnya? Bayangkan jika waktu yang banyak itu anda pergunakan untuk ibadah, belajar, dan hal-hal lain yang lebih bermanfaat, pasti banyak kemanfaatan yang kita peroleh dalam setiap harinya.

Bandingkan kalau anda mengenakan jilbab setiap hari, paling hanya 15–20 menit yang anda perlukan untuk itu, dan itu pun bernilai ibadah bagi anda. Anda pun tak perlu dandan repot-repot atau bingung dalam memilih gaunnya, juga dengan jilbab anda sudah cukup terlihat cantik dan anggun.

13. Menjaga kebersihan hati

Jilbab membantu kaum mukminin dan mukminat untuk menjaga kebersihan hati mereka, memakmurkannya dengan takwa, ketundukan dan ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman :

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab : 53)

Kalau ibunda kaum mukminin saja diperintahkan untuk berhijab terhadap para sahabat, padahal keimanan dan ketakwaan mereka jauh lebih besar dari kita, bagaimana dengan kita ? Maka perintah ini lebih wajib untuk kita terapkan jika melihat rendahnya keimanan dan ketakwaan kita.

14. Mengurangi kesenjangan sosial

Jilbab adalah pakaian sederhana yang cocok dipakai setiap kalangan, baik tua maupun muda, kaya maupun miskin. Dengan memasyarakatkan jilbab, kesenjangan sosial dalam masyarakat akan berkurang. Sehingga dampak negatif yang biasa muncul, seperti iri, dengki, dan kerenggangan hubungan di tengah-tengah masyarakat dapat dihindari. Dengan demikian sifat kekeluargaan dan ukhuwah islamiyyah sesama wanita muslimah semakin terpelihara. Dan masih banyak lagi manfaat dari berjilbab bagi si pemakainya, keluarga, masyarakat maupun agama.




-------------------------
[1] Lihat selengkapnya : Lautan Mukjizat Di Balik Balutan Jilbab, Sufyan bin Fuad Baswedan, hal 35–64.
[2] HR. Bukhari (6502)
[3] HR. Muslim (1893), Abu Dawud (5129) dan At-Tirmidzi (2671)
Share:

PALING BANYAK DIBACA

ARSIP

Followers